Total Tayangan Halaman

Entri Populer

Laman

Senin, 26 Desember 2011

Kekecewaan


Kekecewaan
Pagi itu, Ana sedang duduk di teras depan rumahnya sambil menulis puisi. Ana bangkit dari tempat duduknya menuju kamar karena dia merasa disana adalah tempat ispirasi bagi puisinya. Dia menyelesaikan puisi yang bertemakan persahabatan karena sangat merindukan sahabat lamanya yang hinggi kini tak ada kabarnya semenjak lulus dari MTs, yang dia tahu, sahabatnya melanjutkan menuntut ilmu di pondok Gontor, pondok yang terkenal modern dan bertaraf Internasional.
Tiba-tiba, handphone Ana berdering. Dia mengambilnya dan melihat tak ada nama kontak di layarnya. Diangkatnya telepon itu dengan rasa penasaran.
Assalamuialaikum” suara salam dari balik telepon
Wa’alaikumsalam, maaf ini siapa ya?” jawab Ana
Aku Ririn. Kamu Ana kan?”
Ya Allah, Ririn. Aku kira siapa. Kemana saja nih kok tidak ada kabar? Bagaimana kabarmu?”
Ririn adalah sahabatnya sejak di MTs. Orang yang selama ini dirindukannya.
Alhamdulillah, kabarku baik,. Bagaimana kabarmu juga?” jawab Ririn
Alhamdulillah, sampai saat ini aku masih bisa bernafas dan menikmati segala ciptaan Allah di bumi” jawab Ana
Cie... bahasanya sok alim banget.” Jawab Ririn.
Seketika Ana kaget dengan kata-kata yang baru saja disampaikan kepadanya. Setahunya, Ririn adalah orang yang sangat memegang agamanya sampai-sampai dia mempunyai prinsip tidak akan pacaran karena dalam agama memang diharamkan untuk pacaran, tidak ada toleransi untuknya. Prinsip itu jugalah yang sampai saat ini dipegang oleh Ana karena terinspirasi oleh sahabatnya itu. Saat itu juga Ana penasaran dengan prinsip sahabatnya tersebut, apakah masih dipegang ataukah sudah kandas entah kemana.
Na, gimana? sudah punya pacar?” tanya Ririn.
Pertanyaan itu semakin membuat Ana penasaran dengan prinsip yang dipegang sahabatnya itu.
Belum, kamu sendiri gimana rin?”
Sudahlah, tidak usah membahas pacar atau yang mengenai cinta” jawab Ririn agak ketus
Ana heran dan bertanya dalam hati “yang memulai membahas pacar kan dia, kenapa saya yang disalahkan”
Na, kapan-kapan main ke rumah ya?” ajak Ririn
Iya, Insya Allah” jawab Ana
Ana, sudah dulu ya. Aku mau siap-siap sekolah siang. Assalamu’alaikum” pamit Ririn.
Oh iya, Wa’alaikumsalam” jawab Ana.
***
Beberapa bulan kemudian, tepatnya 7 hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Ana mengunjungi rumah sahabatnya, Ririn. Sesampai disana, Ana disambut bahagia oleh Ririn. Mereka saling bercerita membahas apa saja yang mereka ketahui. Sampai pada saat mereka kehabisan bahan yang akan dibicarakan.
Ririn, apa kamu sudah punya pacar?” tanya Ana spontan. Dia sendiri kaget dengan kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulutnya.
Hehehe” Ririn menjawab dengan tertawa agak malu.
Punya?” desak Ana
Iya, kamu sendiri?”
Ana tertegun , seketika itu kepercayaan Ana kepadanya luntur. Ana diam agak lama hingga tak menyadari bahwa Ririn berbalik tanya kepadanya.
Belum” jawab Ana tanpa basa-basi
Tiba-tiba muncul dalam benak Ana untuk bertanya sejak kapan, sudah berapa kali, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang memberondong masuk ke dalam pikirannya. Kemudian, Ana memberanikan diri untuk bertanya karena rasa penasarannya yang luar biasa.
Sejak kapan kamu mulai pacaran?”
Setelah lulus MTs, memangnya kenapa?” tanya Ririn dengan penasaran
Namun pertanyaan Ririn tidak dijawab oleh Ana. Ana malah memberondongnya dengan pertanyaan lain.
Sudah berapa kali kamu pacaran?”
Kira-kira sekarang yang ke enam kalinya”
Srettt... hati Ana rasanya remuk, benteng kepercayaan yang dulu kokoh, kini retak hanya karena angka enam. Ana kembali bertanya
Rin, apakah kamu suda lupa dengan prinsip hidup kamu dulu?” tanya Ana dengan nada pelan
Oooo itu, Walah... lupakan saja. Yang lalu biarlah berlalu, sekarang ya sekarang” jawabnya ringan
Gubrak... benteng yang masih retak itu kini hacur lebur bercampur debu. Ana tidak sanggup lagi meneruskan percakapan ini, akhirnya Ana pamit pulang dengan berbagai alasan.
***
Sesampai di rumah, Ana langsung masuk kamar dan mengunci pintunya. Di dalam kamar, Ana merenungi semuanya. Berbagai pertanyaan-peranyaan lain kembali memberondong hati dan pikirannya “kok bisa dia pacaran? Padahal dia berada di lingkngan pondok, apakah pondok sudah tidak bisa diandalkan dalam membimbing agama untuk putra-putri bangsa? lalu prinsip hidup yang selama ini dia pegang, dibuang kemanakah prinsip itu? Dan yang lebih disesali lagi, mengapa saya mengikuti prinsip itu dan menjaganya hingga sekarang sedangkan yang mmbuat prinsip sudah melaggarnya sejak lama.”
Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamar Ana.
Siapa?” tanya Ana
Ini kakak, boleh masuk?” jawab kak Rohim.
Kak Rohim adalah kakak Ana yang paling pengertian dibandingkan dengan kakak yang lainnya. Sesuai namanya Rohim artinya penyayang. Ana membukakan pintu dan mempersilahkan kakaknya masuk. Kemudian pintu ditutup kembali dan dikunci.
Kenapa dikunci An?” tanya kak Rohim penasaran
Ana pengen cerita dan minta nasihat kakak”
Ooo, iya ceritakanlah !”
Ana menceritakan semuanya. Mulai dari sahabatnya mempunyai prinsip tidak akan pacaran sampai sahabatnya melanggar prinsipnya sendiri. Akhirnya, kakak angkat bicara.
Begini ya Ana, kakak sendiri bingung dengan sahabatmu itu. Seharusnya, jika seseorang sudah mempunyai prinsip hidup, pasti hidupnya lebih terarah. Apalagi prinsip hidup itu sudah sangat baik karena sudah menyangkutpautkan agama didalamnya. Seperti yang kamu ketahui Ana, pacaran memang dasarnya haram, di toleransi seperti apapun pacaran tetaplah haram. Tetapi Ana, kamu juga harus tahu bahwa pergaulan itu bisa merubah segalanya, merubah kepribadian yang semula baik menjadi buruk bahkan bisa lebih buruk begitupun sebaliknya.”
Kemungkinan sahabatmu itu sudah terjerumus atau kurang bisa memilih teman. Meskipun di pondok, pergaulan yang baik, kurang baik bahkan yang buruk sekalipun ada karena pada umumnya para santri berasal dari beberapa daerah yang berbeda. Apalagi pondok sahabatmu itu adalah pondok modern dan bertaraf Internasional, pasti banyak santri yang berasal dari luar negeri. Nasihat kakak, kamu jangan sampai terpengaruh oleh pergaulan yang tidak baik, kuatkan imanmu, dan untuk sahabatmu itu, tetap jalin silaturrahim yang baik dengan dia karena setiap orang memiliki pendapat yang berbeda, jangan sampai memutuskan tali siaturrahim karena itu sangat dibenci Allah SWT. Oke?” jawabnya panjang lebar
Iya kak, terima kasih atas nasehatnya kak.”
Belum sempat kak Rohim berdiri, Ana memegang tangannya seraya berkata
Tolong rahasiakan semua ini dari siapapun ya kak?” pinta Ana
Iya, tenang saja” jawabnya sambil membelai kepala Ana.
Ana tersenyum kepada kakaknya dan sekarang hatinya lebih tenang. Beberapa menit kemudian, Ana keluar dari kamarnya dan beraktivitas seperti biasanya.
SEKIAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar